Tampilkan postingan dengan label Universitas PGRI Banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Universitas PGRI Banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Februari 2013

Contoh Surat Lamaran

 SURAT LAMARAN KERJA

Situbondo, 25-01-2013
Lampiran  : 1(satu)                                                                  Kepada Yth:

Perihal      : Permohonan Kerja                                        SMKN 1 BANYUPUTIH



Dengan Hormat,

Bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:

a. Nama                          : Zainul Hannan

b. Alamat                        : Pesanggrahan Jangkar Situbondo

c. Tempat/Tanggal lahir: Situbondo / 15-Juli-1988

d. Jenis Kelamin              : Laki-laki

e. Status                          : Kawin

f. Agama                         : Islam

g. Pendidikan Terakhir : S1

h. Handphone                : -

Dengan ini saya mengajukan permohonan kerja kepada yayasan atau sekolah yang bapak pimpin. Selanjutnya harapan saya agar permohonan ini dapat dikabulkan dan ditempatkan disekolah tsb.

Dan untuk keperluan permohonan ini saya sampaikan dengan hormat, catatan diri pribadi saya seperti yang tersebut diatas.

Atas perhatian bapak serta bantuan yang berharga, saya ucapkan terima kasih.


                                                                                                                    Hormat saya,





                                                                                                                    ZAINUL HANNAN, S.Pd

Sabtu, 16 Februari 2013

skripsi bk halaman 5

BAB V

KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP



5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasill analisa data dan pengujian hipotesa, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

5.1.1 Minor I

Ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan diri sendiri pada siswa kelas VII semester genap SMPN 1 Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012”.



5.1.2 Minor II

Tidak ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan dari orang lain pada siswa kelas VII semester genap SMPN 1 Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012”.



5.1.3 Mayor

Ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan harga diri pada siswa kelas VII semester genap SMPN 1 Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012”.


5.2. Saran

5.2.1 Saran Bagi Guru BK

1. Dapat menanamkan semangat dalam diri siswa untuk mengerjakan soal tanpa harus tertantang oleh teman lainnya

2. Senantiasa memberikan bimbingan kepada siswa agar memiliki bakat/potensi didalam menguasai pelajaran

3. Perlu adanya penerapan tata tertib yang tegas dan segera memberikan sanksi kepada siswa yang sudah melanggar peraturan sekolah

5.2.2 Saran Bagi Orang Tua

1. Senantiasa memberikan semangat kepada siswa agar rajin dalam mengerjakan PR dirumah

2. Membiasakan atau menyuruh siswa untuk selalu disiplin dirumah

3. Hendaknya membiasakan anggota keluarga mematuhi peraturan yang ada dikeluarga dan bila ada yang melanggar hendaknya ditegur serta memberikan teladan yang baik

5.2.3 Saran Bagi siswa

1. Dapat menumbuhkan kesenangan dalam mengerjakan soal tanpa tertantang oleh teman lain

2. Mentaati tatib disekolah maupun dirumah



5.3. Penutup

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan skripsi ini jauh dari sempurna. Apabila ada yang perlu dibenahi penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Mudah-mudahan skripsi yang dibuat ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Amien.

Jumat, 15 Februari 2013

skripsi bk halaman 3

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian

Dalam menentukan daerah penelitian menggunakan metode purposive daerah. Mengenai metode purposive area ini menurut Suharsimi Arikunto purposive area berarti tempat penelitian bukan berdasarkan atas strata, akan tetapi didasarkan atas tujuan tertentu. Teknik ini biasanya dilakukan atas beberapa pertimbangan, misalnya alasan keterbatasan waktu, tenaga dan dana, sehingga tidak dapat mengambil tempat yang luas atau jauh, (2002: 117).

Dari pendapat tersebut diatas dapat diketahui bahwa purposive area adalah pemilihan tempat penelitian atas dasar tujuan tertentu. Dan jika penelitian dalam bidang pendidikan, yaitu sekolah. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan dana, sehingga tidak dapat mengambil tempat yang luas dan jauh. Sehubungan dengan uraian tersebut diatasmaka dalam penelitian ini penulis mengambil tempat penelitian di SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi propinsi Jawa Timur.

3.2. Metode Penentuan Responden

Menurut Suharsimi Arikunto, ”Responden adalah orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan penelitian baik peranyaan tertulis maupun lisan”, (2003:10).

Menurut Sutrisno Hadi, “ Metode penentuan responden penelitian adalah ada dua metode dalam menentukan responden populasi dan sampel. (2001 : 38).

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penentuan responden adalah suatu cara yang digunakan untuk menentukan orang-orang yang ditunjuk untuk menjawab dan memberikan keterangan terhadap masalah yang diteliti baik secara tertulis maupun lisan.

Melihat kenyataan bahwa populasi responden sangat banyak maka dalam menentukan responden pada penelitian ini digunakan suatu teknik Proportional Random Sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan seimbangan dari anggota populasi dengan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dan tidak memilih-milih individu dalam anggota populasi tersebut (Riduwan, 2003:12).

Dalam penelitian ini yang dijadikan responden untuk mewakili populasi adalah 68 siswa dari kelas VII SMPN 1 Banyuwangi yang berjumlah 218 siswa di dapat dengan rumus :

                                     n =      N      
                                          (1+Ne2)



Sumber: Riduwan dan Sunarto(2007:36)

Keterangan :

n : Ukuran sampel

N : Ukuran Populasi

e : Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel dalam penelitian ini di ambil nilai e = 10%.

Dari jumlah sampel tersebut, kemudian menentukan jumlah sampel dari masing-masing kelas menurut jenis kelamin secara porposional dengan rumus :

                                                      ni = Ni x n
                                                             N



Keterangan :

· ni = jumlah sample menurut stratum

· Ni = jumlah populasi menurut sratum

· n = jumlah sample seluruhnya

· N = jumlah populasi seluruhnya

Untuk menentukan populasi responden laki-laki dan perempuan dalam tiap-tiap kelas juga dipergunakan rumus yang sama seperti diatas namun ruang lingkupnya masing-masing jenis kelamin, tiap kelas dibagi jumlah siswa satu kelas dikali jumlah perwakilan responden jenis kelamin masing-masing.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah:

· Metode dokumenter

· Metode angket

· Metode interview

Supaya bisa mendalami tentang beberapa metode tersebut maka perlulah kiranya diuraikan satu persatu.

3.3.1 Metode Dokumenter

Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian,meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan penelitian (Riduwan, 2003:58).

Lebih lanjut menurut Suharsini Arikunto,”Dokumenter adalah teknik mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa benda-benda tertulis seperti buku, majalah, dokumen, catatan harian, dan sebagainya”,(2002:135).

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode dokementer adalah suatu cara untuk memperoleh data untuk penelitian, dimana penelitiannya menggunakan dokumen atau catatan-catatan tentang peristiwa masa lalu.

Alasan penulis menggunakan metode dokumenter adalah sebagai berikut :

· Data yang diperlukan sudah tersedia dalam dokumen.

· Lebih efektif dan efisien.

· Data yang diperoleh sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Sasaran menggunakan metode dokumenter adalah sebagai berikut :

· Kepala sekolah SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi.

· Guru Bimbingan dan Konseling SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi.

· Kepala Tata Usaha SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi.

 
Hasil yang didapat menggunakan metode dokumenter adalah sebagai berikut :

· Data personalia sekolah.

· Data inventaris sekolah

· Data siswa.

· Struktur organisasi siswa SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi.
 
3.3.2 Metode Angket

Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain dan bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna (Riduwan, 2003:52).

Menurut suharsimi angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus di isi oleh orang yang akan di ukur (responden). (2003:28)

Sedangkan kuesioner menurut Arikunto adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui (2002: 128).

Dalam penelitian ini metode angket dipergunakan untuk memperoleh data mengenai kedisiplinan belajar siswa berupa pertanyaan-pertanyaan dalam pilihan ganda kepada siswa kelas VII SMP Negri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi.

3.3.3 Metode Interview

Wawancara atau interview menurut nasution adalah “ suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yangbertujuan memperoleh informasi. (2006:319)

Menurut Moleong wawancara atau interview adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai memberikan jawaban atas pertanyaan ( 2002:135).

Sedangkan menurut pendapat Stewart L. Tubss mengatakan bahwa, " Wawancara adalah suatu proses komunikasi diadik relasional dengan tujuan yang serius dan ditetapkan terlebih dulu yang dirancang untuk mempertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab".(2000:40)

Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa metode interview adalah suatu komunikasi dengan tujuan yang serius yang dilakukan oleh dua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai dengan tujuan untuk mendapatkan informasi.

3.4 Metode Analisa Data

Data yang sudah ada perlu dikumpulkan semua agar mudah untuk pengecekan apakah data yang dibutuhkan sudah tersedia semua.

Maka dalam menganalisa data menetapkan langkah-langkah sebagai berikut :

· Mencari dan mengumpulkan data penelitian.

· Menyusun data yang diperoleh dari penelitian

· Mengolah data untuk menguji hipotesa yang diajukan.

Untuk menganalisa data dalam penelitian penulis mendapatkan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan tehnik statistik.

Keuntungan dari penggunaan tehnik statistik adalah :

· Statistik bekerja dengan angka-angka..

· Teknik statistik dapat memberikan hasil yang obyektif.

· Statistik menyediakan cara meringkas data kedalam bentuk yang lebih berarti dan mudah.

Adapun rumusan yang dipakai dalam penelitian ini adalah korelasi tetrakorik dengan rumus sebagai berikut :

Dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mencari besarnya Phi (Æ) dengan rumus

Æ =

2. Mencari besarnya koofisien korelasi tetrakorik (rt)

rt = Sinus (Æ . 900)

3. Mengoreksi nilai rt dengan faktor koreksi.

r = rt x Faktor koreksi x Faktor koreksi

4. Pengujian hipotesa nihil dengan chi kwadrat dengan rumus

X2 = Æ2 x. N

Dengan derajat bebas (db) = 1

Menggunakan taraf signifikan ,TS 5% = 3,841.

Konsultasi chi kuadrat dengan table (X2)

a) Jika hasil pengujian (X2) chi kuadrat lebih besar dari tabel maka hipotesa nihil yang diajukan ditolak signifikan, berarti hasilnya signifikan.

b) Jika hasil pengujian (X2) chi kuadrat lebih kecil dari tabel maka hipotesa nihil yang diajukan diterima, berarti hasilnya non signifikan.

c) Jika hipotesa nihil ditolak, maka hipotesa kerja yang diajukan sebelumnya diterima.

d) Jika hipotesa nihil diterima, maka hipotesa kerja yang diajukan sebelumnya ditolak.

Sedangkan untuk menggetahui besar derajat korelasi atau hubungan hasil r dikonsultasikan dengan r tabel pada derajat hubungan / korelasi. Dalam hal ini menggunakan pedoman.

0,90 – 1,00 korelasi sangat tinggi

0,70 – 0,90 korelasi yang tinggi.

0,40 – 0,70 korelasi sedang.

0,20 – 0,40 korelasi yang rendah tapi ada.

0,00 – 0,20 korelasi yang rendah sekali (R.A.Ganda Pratiyana, 2000:99)



Sehubungan analisa data menggunakan statistik maka hipotesa kerja yang sudah diajukan pada BAB II diubah menjadi hipotesa nihil yang berbunyi :

Hipotesa Mayor

Tidak ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan harga diri pada siswa kelas VII SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012.

Hipotesa Minor
  1. Tidak ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan diri sendiri pada siswa kelas VII SMPN 1 Glagahkabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012.
  2. Tidak ada hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaandari orang lain pada siswa kelas VII SMPN 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012.

skripsi bk halaman 2

BAB II

KAJIAN TEORI DAN HIPOTESA

 
2.1. Kedisiplinan Belajar

2.1.1.Pengertian Kedisiplinan Belajar

Menurut Prijodarminto bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan keterikatan. (2004:31)

S.P.Hasibuan juga menjelaskan tentang arti Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan sekolah dan norma norma sosial yang berlaku. Kedisiplinan diartikan jika siswa selalu datang dan pulang tepat waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik,memetuhi semua peraturan dan norma-norma social yang berlaku. (dalam Asep, 2003:193-194)

Sedangkan belajar menurut Slameto ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, (2010:2).

Menurut pandangan Muhibbin Syah bahwa : Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun dilingkungan rumah atau keluarga sendiri,(2009:63).

Syaiful Bahri berpendapat bahwa kunci sukses dalam belajar salah satunya adalah dengan disiplin. Karena dengan usaha atau kiat dari seorang siswa untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik, terbentuklah suatu kedisiplinan belajar yang siswa peroleh melalui pembelajaran.(2008:15).

Maka dari seluruh pengertian antara disiplin dan belajar, dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud disiplin belajar dalam penelitian ini adalah pernyataan sikap dan perbuatan siswa dalam melaksanakan kewajiban belajar secara sadar dengan cara menaati peraturan yang ada di lingkungan sekolah maupun di rumah.

Didalam berusaha merealisasikan tujuan pendidikan nasional yakni untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, serta mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat membangun dirinya sendiri serta barsama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa, maka sekolah mempunyai misi yang cukup berat.

Sejalan dengan misi yang diemban itu maka diharapkan semua pihak yang terlibat didalam mekanisme kerja operasional sekolah sangat diperlukan suatu wawasan yang merangsang tumbuhnya disiplin belajar dalam diri pribadi, kendati demikian dalam kegiatan belajar mengajar disekolah sasaran pembentukan dan pengembangan kepribadian terutama ditujukan kepada anak didik yang mempunyai karakter kepribadian yang bermacam-macam dan sekaligus memberi pengaruh terhadap kelangsungan proses belajar mengajar itu sendiri. Hal ini ter cermin dari perilaku siswa sehari-hari baik itu perilaku dalam bentuk positif maupun perilaku dalam bentuk negatif.

Oleh sebab itu disiplin dalam belajar harus dimiliki oleh setiap siswa, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang selalu melekat pada diri setiap siswa. Dengan demikian akan terbentuk suatu etos belajar yang baik. Belajar yang dilakukan oleh siswa tidak lagi dirasakan sebagai beban, akan tetapi sudah dianggap sebagai suatu kebutuhan dalam hidupnya. Disiplin belajar pada siswa memberi kontribusi positif terhadap pencapaian prestasi belajarnya. Seorang siswa yang memiliki disiplin belajar yang tinggi akan dapat belajar dengan baik yang ditunjukkan oleh sikapnya dalam belajar yang sungguh-sungguh dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pelajar, terarah dan teratur sehingga sangat dimungkinkan dapat mencapai prestasi belajar yang terbaik.

Dengan demikian peran disiplin belajar pada siswa sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajarnya. Hal ini dikarenakan dengan adanya disiplin belajar seorang siswa akan mampu mengkondisikan dirinya untuk belajar sesuai dengan tugasnya sebagai seorang pelajar. Dengan disiplin, maka rasa malas, rasa enggan dapat diatasi, hal ini dapat meningkatkan kualitas belajarnya, sehingga memungkinkan siswa memperoleh prestasi belajar yang terbaik. Dalam hal ini yang menjadi indikator dari disiplin belajar siswa menurut Prijodarminto dalam Tulus Tu’u, 2004:23 adalah sebagai berikut:

2.1.1.1. Ketaatan Terhadap Tata Tertib Sekolah

Peraturan dan tata-tertib merupakan sesuatu yang digunakan untuk mengatur perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa menurut Suharsimi Arikunto bahwa : “Peraturan menunjuk pada patokan atau standar yang sifatnya umum yang harus dipenuhi siswa seperti misalnya peraturan tentang kehadiran siswa, peraturan tentang jam istirahat, peraturan tentang kondisi yang harus dipenuhi siswa di dalam kelas pada waktu pelajaran sedang berlangsung seperti: mendengarkan dengan baik pelajaran yang disampaikan guru, tidak mengobrol, tidak makan atau minum pada saat KBM, tidak meninggalkan kelas tanpa seizin guru dan sebagainya”.(dalam Ramdan, 2008: 122).

Sementara itu tata tertib menunjuk pada patokan atau standar untuk aktifitas khusus misalnya: penggunaan pakaian seragam, mengikuti upacara bendera dan sebagainya. Faktor penting untuk dapat memberlakukan peraturan dan tata-tertib sekolah adalah kedisiplinan. Sementara itu untuk dapat berdisiplin seorang siswa membutuhkan adanya kesadaran dari dalam dirinya untuk mematuhi segala peraturan dan tata-tertib sekolah. Kedisiplinan siswa dalam menjalankan peraturan dan tata-tertib sekolah sangat mendukung proses belajar siswa. Dengan menjalankan peraturan dan tata-tertib sekolah, seorang siswa tidak akan mendapat masalah di sekolah dan belajarnya pun akan berjalan dengan lancar. Lain halnya jika ia melakukan pelanggaran atas peraturan atau tata-tertib sekolah siswa akan berurusan dengan Bapak/Ibu guru untuk menerima sanksi atas pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan menyita waktu belajarnya.

Sebagai ilustrasi dari pelanggaran atas peraturan dan tata tertib sekolah adalah ketika siswa datang ke sekolah terlambat, ia akan mengalami kerugian berupa ketinggalan dalam menerima materi pelajaran dan juga akan menerima sanksi dari guru sebagai hukuman atas pelanggaran yang dilakukannya yang tentunya akan berdampak kurang baik terhadap belajarnya. Demikian halnya dengan masalah membolos, ketika siswa membolos maka ia akan mengalami kerugian yang lebih besar daripada terlambat masuk sekolah karena ia sama sekali tidak dapat menerima materi atau pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah dan juga akan menerima sanksi atas pelanggaran yang dilakukannya.

Untuk mematuhi seluruh peraturan dan tata-tertib sekolah sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit, karena peraturan dan tata-tertib sekolah dibuat untuk dapat dilaksanakan oleh siswa. Tidak mungkin peraturan dan tata-tertib sekolah dibuat untuk tidak dapat dilaksanakan oleh siswa. Untuk dapat melaksanakan peraturan dan tata-tertib sekolah yang penting adalah niat dan kesadaran untuk selalu taat dan patuh terhadap seluruh peraturan dan tata-tertib yang ada, karena hal tersebut pasti akan berdampak positif terhadap kemajuan belajarnya.

2.1.1.2. Ketaaatan Dalam Mengerjakan Tugas-tugas Pelajaran di Kelas

Menyelesaikan tugas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam belajar, yang dilakukan baik di dalam maupun di luar jam sekolah. Tujuan dari pemberian tugas menurut Abu Ahmadi “Memantapkan pengetahuan yang telah diterima, mengaktifkan anak dalam belajar, membiasakan anak giat belajar dan memupuk rasa tanggung jawab”.(2007: 61).

Dengan adanya tugas yang diberikan oleh guru pada siswa, seorang siswa diharapkan akan dapat lebih paham terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Agar siswa berhasil dalam belajar, maka ia harus dapat mengerjakan setiap tugas yang diberikan dengan sebaikbaiknya, baik dalam proses pengerjaannya maupun pengumpulannya, karena seringkali tugas yang dikumpulkan melebihi batas akhir pengumpulan tugas akan dapat mengurangi nilai yang diberikan. Dalam mengerjakan tugas dari guru (PR) hendaknya tidak ditunda-tunda karena dengan menunda-nunda pekerjaan seringkali membuat kita menjadi malas untuk mengerjakannya.

2.1.1.3. Ketaatan Terhadap Kegiatan Belajar di Kelas

Belajar merupakan tugas dan kewajiban bagi seorang pelajar. Sebagai seorang pelajar, siswa hendaknya dapat menggunakan waktu yang dimilikinya dengan seefisien dan seefektif mungkin, karena waktu yang telah berlalu akan hilang dan tidak pernah akan kembali lagi. Oleh karena itu siswa hendaknya sadar dan dapat memanfaatkan waktu yang ada untuk belajar dikelas digunakan hanya untuk belajar. Untuk memudahkan siswa dalam belajar, sebelumnya ia membuat jadwal belajar untuk membatasi kegiatan lain yang tidak berguna yang dapat mengganggu aktivitas belajarnya di kelas.

Menurut pendapat Slameto bahwa : “Pada permulaan belajar sering dirasakan kelambatan, keengganan bekerja dan kalau perasaan itu kuat, belajar sering diundurkan, malahan tak dikerjakan. Kelambatan itu dapat diatasi dengan suatu perintah kepada diri sendiri untuk memulai pekerjaan itu tepat pada waktunya”.(2003: 77).

2.1.1.4. Ketaatan Terhadap Kegiatan Belajar di Rumah

Dalam bukunya Pedoman Belajar bagi Pelajar dan Sylvia Rimm mengatakan ”Biasakanlah belajar dan janganlah kamu mencoba untuk meninggalkan belajar, karena ilmu itu bergantung pada orangnya bisa jadi tetap dan bisa jadi semakin bertambah lantaran selalu dipelajari terus menerus”.(2003:215).

Kegiatan belajar di rumah merupakan usaha untuk menghasilkan atau memperoleh prestasi belajar yang optimal. Dengan belajar secara teratur setiap hari kita dapat terus menerus menyerap materi pelajaran yang sedang kita pelajari, sehingga pengetahuan yang kita dapatkan senantiasa terus bertambah. Dengan selalu belajar dan menyiapkan materi yang akan disampaikan keesokan harinya dapat membantu belajar siswa, karena siswa menjadi lebih siap dalam menerima materi dan akan membuat penerimaannya menjadi lebih baik. Jadi keteraturan dalam belajar di rumah sangat penting bagi siswa, karena dengan belajar secara teratur memungkinkan siswa dapat meningkatkan penguasaan materi pelajaran yang sedang dipelajarinya, sehingga siswa dapat meraih prestasi belajar yang optimal. Orang tua disini mempunyai peran yang penting dalam menegakkan kedisiplinan anak dalam belajar terutama mengenai waktu belajar siswa di rumah. Orang tua dapat melakukan pengawasan terhadap aktivitas belajar anak ketika belajar di rumah. Apabila anak tidak belajar, orang tua harus dapat mengetahui dan mengingatkannya untuk belajar.

2.1.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Belajar

Perilaku disiplin tidak akan tumbuh dengan sendirinya, melainkan perlu kesadaran diri, kebiasaan, dan juga adanya hukuman. Bagi siswa disiplin belajar juga tidak akan tercipta apabila siswa tidak mempunyai kesadaran diri. Siswa akan disiplin dalam belajar apabila siswa sadar akan pentingnya belajar dalam kehidupannya. Disiplin dapat terbentuk oleh empat kekuatan, yakni mengikuti dan menaati peraturan, adanya kesadaran diri, hasil proses pendidikan, hukuman dalam rangka pendidikan.

Keempat faktor tersebut sangat dominan dalam mempengaruhi dan membentuk disiplin, karena dengan alasan sebagai berikut:

1. Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya, selain itu kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin

2. Pengikutan dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat. Tekanan dari luar dirinya sebagai upayamendorong, menekan dan memaksa agar disiplin diterapkan dalam diri seseorang sehingga peraturan itu diikuti dan dipraktikan

3. Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yng ditentukan atu diajarkan

4. Hukuman sebagai upaya menyadarkan,mengkoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor dalam disiplin akan berpengaruh terhadap siswa apabila memiliki kesadaran diri, kebiasaan, dan juga adanya suatu hukuman. Dan membutuhkan suatu proses untuk mencapai disiplin yang baik.

2.2. Harga diri

2.2.1.Pengertian Harga Diri

Harga diri menurut Jhon. W. Santrock adalah istilah yang digunakan dalam psikologi untuk mencerminkan dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri, (2003:336)

Sedangkan Kartini Kartono dan Dali Gulo mengungkapkan bahwa harga diri atau self esteem adalah rasa harga diri, kesan seseorang mengenai dirinya yang dianggap baik, (2003:441).

Purnama Sidik memandang harga diri adalah mengenai bagaimana individu menilai dirinya dan keyakinan serta kenyamanan atas dirinya mengarah pada dua aspek penting yaitu sejauh mana individu mencintai dirinya (self-love) dan memilki kepercayaan diri (self-confidence),(2008:13).

Berdasarkan dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa harga diri merupakan salah satu dimensi dari konsep diri. Harga diri adalah proses evaluasi yang ditujukan indivu pada diri sendiri, yang nantinya berkaitan dengan proses penerimaan individu terhadap dirinya. Dalam hal ini evaluasi akan menggambarkan bagaimana penilaian individu tentang dirinya sendiri, menunjukan penghargaan dan pengakuan atau tidak, serta menunjukkan sejauh mana individu tersebut merasa mampu, sukses dan berharga. Secara singkat harga diri diartikan sebagai penilaian terhadap diri tentang keberhargaan diri yang di ekspresikan melalui sikap-sikap yang dianut individu.

Menurut Maslow, melihat harga diri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan akan rasa harga diri ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1) Penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri yang mencakup hasrat untuk memeperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian dan kebebasan. Individu ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mempu mengatasi segala tantangan dalan hidupnya.

2) Penghargaan dari orang lain, antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya. disini individu akan berusaha memenuhi kebutuhan akan rasa harga diri, apabila kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memilikinya telah terpenuhi atau terpuaskan.(Koeswara, 1991 : 124)

2.2.2. Karakteristik Harga Diri

Menurut Maslow dalam buku psikologi kepribadian mengukapkan bahwa kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaan dan sikap percaya diri, diri berharga, diri mampu, dan perasaan berguna dan penting didunia. Sebaliknya kebutuhan harga diri tidak terpuaskan akan menimbulkan perasaan dan sikap inferior, canggung, lemah, pasif, tergantung, penakut, tidak mampu mengatasi tuntutan hidup, dan rendah diri dalam bergaul. (Maslow, 2004 : 260).

Coopersmith menegemukakan bahwa harga diri dibedakan menjadi tiga jenis jika dilihat dari karakteristik individu, yakni harga diri rendah, harga diri sedang dan harga diri tinggi.(2006:38-41).

a. Individu dengan harga diri tinggi (high self-esteem)

Individu yang memiliki harga diri tinggi memiliki karakteristikdiantaranya :

1) Aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik,

2) Berhasil dalam bidang akademik, terlebih dalam mengadakan hubungan sosial,

3) Dapat menerima kritik dengan baik,

4) Percaya terhadap persepsi dan dirinya sendiri,

5) Tidak terpaku pada dirinya sendiri atau tidak hanya memikirkan kesulitannya sendiri,

6) Keyakinan akan dirinya tidak berdasarkan pada fantasinya, karena memang mempunyai kemampuan, kecakapan sosial dan kualitas diri yang tinggi,

7) Tidak terpengaruh pada penilaian diri dari orang lain tantang sifat atau kepribadiannya, baik itu positif ataupun negatif,

8) Akan menyesuaikan diri dengan mudah pada suatu lingkungan yang belum jelas, dan

9) Akan lebih banyak menghasilkan suasana yang berhubungan dengan kesukaan sehingga tercipta tingkat kecemasan dan perasaan tidak aman yang rendah serta memiliki daya pertahanan yang seimbang.

b. Individu dengan harga diri sedang (medium self-esteem)

Karakteristik individu dengan harga diri yang sedang hampir sama dengan karakteristik individu yang memiliki harga diri tinggi, terutama dalam kualitas, perilaku dan sikap. Pernyataan diri mereka memang positif, namun cenderung kurang moderat/ kurang menghindari sikap atau tindakan yang ekstreem.

c. Individu dengan harga diri rendah (low self-esteem)

Individu yang memiliki harga diri rendah memiliki karakteristik meliputi:

1) Memiliki perasaan inferior,

2) Takut dan mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial,

3) Terlihat sebagai orang yang putus asa dan depresi,

4) Merasa diasingkan dan tidak diperhatikan,

5) Kurang dapat mengekspresikan diri,

6) Sangat tergantung pada lingkungan,

7) Tidak konsisten,

8) Secara pasif akan selalu mengikuti apa yang ada di lingkungannya,

9) Menggunakan banyak taktik pertahanan diri, dan

10) Mudah mengakui kesalahan.

Kebutuhan untuk diperhatikan diperolehnya perhatian dari orang lain yang merupakan pengakuan terhadap harga diri, apabila kebutuhan gagal terpenuhi maka akan tumbul prilaku mala suai seperti minum–minum, mencuri, membolos, menghisap ganja dan lain sebagainya (Mudjijo, 2001 : 12 – 13)

Karakteristik individu dengan harga diri tinggi dan rendah menurut Clemes & Bean (1995 : 11-14) adalah sebagai berikut:

Anak remaja dengan harga diri tinggi akan, 1) bertindak mandiri, 2) menerima sesuatu dengan tanggung jawab, 3) merasa bangga akan prestasinya, 4) mendekati tantangan baru dengan penuh antusias, 5) mentolerir frustasi dengan baik. Anak remaja dengan harga diri rendah akan, 1) meremehkan bakatnya sendiri, 2) merasa bahwa orang lain tidak menghargainya, 3) merasa tidak berdaya, 4) mudah dipengaruhi orang lain, 5) menunjukan deretan emosi dan perasaa yang sempit, 6) menghindari situasi yang menimbulkan kecemasan, 7) mudah frustasi.

H. J Eysenck dalam buku mengenal diri prbadi yang diterjemakan oleh D.H Gulo mengemukakan bahwa :

“ seseorang yang memiliki harga diri tinggi cenderung percaya diri, percaya pada kemampuan diri, merasa berguna, merasa berharga, dan percaya kalau mereka disukai orang lain, sedangkan mereka yang mempunyai pendapat yang rendah tentang dirinya cenderung merasa rendah diri, merasa gagal, dan tidak menarik”. (dalam Sulistyawati, 2002 : 13)

Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa :

1.Karakteristik seseorang yang mempunyai harga diri tinggi

Meliputi :

Percaya Diri, Merasa berharga, aktif dan mampu meekspresikan diri dengan baik, dapat menerima kritik dengan baik, tidak terpengaruh pada penilaian orang lain, mudah mnyesuaikan diri pada lingkungan yang baru, Percaya pada kemampuan diri, Merasa berguna, Merasa diri mampu, disukai orang lain, bertindak mandiri, menerima sesuatu dengan tanggung jawab, mendekati tantangan baru dengan penuh antusias.

2. Karakteristik seseorang dengan harga diri sedang

Meliputi :

Hampir sama dengan karakteristik harga diri tinggi, terutama dalam kualitas, perilaku dan sikap. Pernyataan diri mereka memang positif, namun cenderung kurang moderat/ kurang menghindari sikap atau tindakan yang ekstreem.

3.Karakteristik seseorang yang mempunyai harga diri rendah

Meliputi :

Sikap Inferior, Canggung, Lemah, rendah diri dalan bergaul, Pasif, menghindari situasi yang menimbulakn kecemasan, Merasa tidak mampu dan tidak berharga, merasa gagal, merasa tidak menarik, mudah frustasi, kurang dapat mengekspresikan diri, menggunakan banyak taktik pertahanan diri, mudah dipengaruhi orang lain.

2.3. Hubungan Kedisiplinan Belajar Dengan Harga Diri

Sikap, perilaku, dan pola kehidupan yang baik dan berdisiplin tidak terbentuk serta merta dalam waktu singkat. Namun, terbentuk melalui suatu proses yang membutuhkan waktu panjang. Salah satu proses untuk membentuk kedisilinan tersebut adalah menanamkan kebutuhan akan harga diri bagi siswa melalui sikap, perilaku, yang baik dan diperlukan pembinaan, tempaan yang terus menerus sejak dini. Disiplin tersebut akan terwujud melalui pembinaan sejak dini, sejak usia muda, dimulai dari lingkungan keluarga, melalui pendidikan yang tertanam sejak usia muda yang semakin lama semakin menyatu kuat dalam dirinya dengan bertambahnya usia.

Betapa pentingnya setiap orang untuk dapat membangun dan memenuhi kebutuhan harga dirinya secara realistik, melalui pengembangan segenap potensi yang dimilikinya hingga menjadi sebuah prestasi.Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab besar untuk dapat memenuhi kebutuhan harga diri anak (siswanya), melalui pemberian kasih sayang yang tulus sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sehat, yang didalamnya terkandung perasaan harga diri yang stabil dan mantap. Disinilah, tampak arti penting peran orang tua dan guru sebagai fasiltator.

skripsi bk hlaman 1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya pendidikan adalah merupakan suatu proses pembentukan dan pengembangan kepribadian seutuhnya yang berlangsung sepanjang hidup manusia baik berlangsung didalam maupun diluar sekolah. Didalam membangun kepribadian yang utuh didukung oleh beberapa faktor yang berasal dari diri individu dan faktor yang berasal dari luar individu. Oleh karena itu diperlukan suatu wawasan didalam mengadakan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi dalam segala aspek kehidupan.

Dewasa ini peningkatan kualitas pendidikan betul-betul sudah dirasakan dampaknya, baik berkaitan dengan kemampuan yang dicapai dari segi banyaknya lulusan maupun peningkatan prestasi akademis yang dicapai siswa.Hal itu disebabkan karena didukung oleh sarana dan prasarana yang semakin memadai serta kualitas sumber daya manusia yang sudah semakin maju. Namun kenyataan juga menunjukkan bahwa kemajuan yang kita rasakan masih tetap dibarengi dengan semakin kompleksnya permasalahan yang semakin muncul yang dihadapi oleh lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang mempunyai misi meningkatkan sumber daya manusia baik fisik maupun mentalnya melalui proses pendidikan.

Sekolah sebagai salah satu pranata sosial yang berfungsi untuk menyelenggarakan pendidikan, sekolah merupakan tempat kedua terpenting setelah keluarga yang dibutuhkan oleh seorang siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.Sekolah membantu mengembangkan aspek-aspek kepribadian siswanya baik menyangkut intelektual, sosial, emosi, spiritual maupun moral. Dengan kata lain, sekolah menjadi wahana untuk mempersiapkan siswa agar memiliki kepribadian dan moralitas yang baik melalui pembinaan pengetahuan, pengenalan sikap serta penanaman nilai-nilai yang berlaku di lingkungan masyarakat.

Salah satu upaya sekolah dalam mengajarkan perilaku moral kepada siswa adalah dengan menerapkan disiplin melalui pemberlakuan tata tertib sekolah. Tata tertib sekolah merupakan kumpulan peraturan yang harus ditaati atau dilaksanakan di sekolah oleh seluruh siswa agar proses belajar mengajar berlangsung dengan lancar. Peraturan sekolah dirasakan sebagai suatu yang seharusnya dipatuhi oleh siswa untuk kebaikan diri sendiri dan kebaikan bersama, yang kemudian akan menjadi suatu kebiasaan yang baik menuju ke arah disiplin diri sendiri (self discipline ). Untuk mewujudkan siswa yang memiliki disiplin diri tidaklah mudah, diperlukan pembiasaan yang konsisten pada siswa sejak siswa mulai mengenal bangku sekolah. (Hapsari, 2009 : 114)

Disiplin pada dasarnya kontrol diri dalam mematuhi aturan baik yang dibuat oleh diri sendiri maupun diluar diri baik keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat,bernegara maupun beragama. Disiplin juga merujuk pada kebebasan individu untuk tidak bergantung pada orang lain dalam memilih, membuat keputusan, tujuan, melakukan perubahan perilaku, pikiran maupun emosi sesuai dengan prinsip yang diyakini dari aturan moral yang anut. Dalam perpektif umum disiplin adalah perilaku sosial yang bertanggung jawab dan fungsi kemandirian yang optimal dalam suatu relasi sosial yang berkembang atas dasar kemampuan mengelola atau mengendalikan diri, memotivasi dan idenpendensi diri.(Yusi Riksa Yustiana, 2006:1).

Dalam menentukan kedisiplinan dibutuhkan adanya membangun harga diri atau kesadaran diri yang baik sebagai peralihan dari masa anak menuju masa dewasa, remaja merupakan masa yang penuh dengan kesulitan dan gejola, baik bagi remaja sendiri maupun bagi orang tuanya sering kali karena ketidaktahuan dari orang tua mengenai keadaaan masa remaja tersebut ternyata dapat menimbulkan bentrokan dan kesalah pahaman antar remaja dan orang tua yakni dalam keluarga atau remaja dengan lingkungannya. Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya, selain itu kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin. (Prijodarminto, 2004:34)

Hal tersebut diatas tentunya tidak membantu remaja untuk melewati masa ini dengan wajar, sehingga berakibat terjadinya berbagai macam gangguan tingkah laku seperti penyalahgunaan zat atau kenakalan remaja atau gangguan mental lainya. Orang tua seringkali dibuat bingung atau tidak berdaya dalam menghadapi perkembangan anak remajanya dan ini menambah parahnya gangguan yang diderita oleh anak remajanya.

Untuk menghindari hal tersebut dan mampu menentukan sikap yang wajar dalam menghadapi anak remaja, guru dan orang tua diharapkan memahami perkambangan remajanya beserta ciri-ciri khas yang terdapat pada masa perkembangan tersebut. Dengan ini guru dan orang tua diharapkan agar memahami atas perubahan-perubahan yang terjadi pada diri anak dan remaja pada saat ia memasuki masa remajanya. Begitu pula dengan memahami dan membina anak/remaja agar menjadi individu yang sehat dalam segi kejiwaaan serta mencegah bentuk kenakalan remaja perlu memahami proses tumbuh kembangnya dari anak sampai dewasa.

Betapa pentingnya setiap orang untuk dapat membangun dan memenuhi kebutuhan harga dirinya secara realistik, melalui pengembangan segenap potensi yang dimilikinya hingga menjadi sebuah prestasi.Orang tua dan guru memiliki tanggung jawab besar untuk dapat memenuhi kebutuhan harga diri anak (siswanya), melalui pemberian kasih sayang yang tulus sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sehat, yang didalamnya terkandung perasaan harga diri yang stabil dan mantap. Disinilah, tampak arti penting peran orang tua dan guru sebagai fasiltator.

1.2. Batasan Batasan

Sebelum mengadakan penelitian, perlu kiranya adanya batasan-batasan pengertian. Hal ini bertujuan agar jangan samapai terjadi salah tafsir atau salah pengertian antara yang dimaksud pada penelitian dengan para pengguna hasil penelitian ini. Disamping itu untuk menghindari denotative (makna ganda), dan juga hal ini digunakan sebagai arah untuk mendapatkan data-data yang relevan dengan permasalahan penelitian.

1.2.1. Batasan Pengertian Judul Penelitian

Didalam pembatasan pengertian judul penelitian ini diketengahkan : (1) hubungan atau korelasi, (2) kedisiplinan belajar, (3) harga diri.

1.2.1.1. Pengertian Hubungan atau Korelasi

Hubungan yang dimaksud penulis dalam judul adalah korelasi atau hubungan asimetris dimana variabel yang satu dapat mempengaruhi variabel yang lain.

Sedangkan F.X Sukarno menjelaskan, “ Korelasi adalah saling mengadakan hubungan antar dua hal atau lebih” (2006 : 65).

Menurut Paulus Waluyo, “ Korelasi adalah suatu teknik dalam statistik yang berguna untuk memperhitungkan hubungan antara dua variabel yaitu variabel X dan variabel Y (1990 : 51).

Dari dua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa korelasi asimetris yang dimaksud adalah adanya hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain, atau variabel X akan mampu mempengaruhi variabel Y.

1.2.1.2. Pengertian Kedisiplinan Belajar

Disiplin belajar menurut pendapat Syaiful Bahri bahwa kunci sukses dalam belajar salah satunya adalah dengan disiplin. Karena dengan usaha atau kiat dari seorang siswa untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik, terbentuklah suatu kedisiplinan belajar yang siswa peroleh melalui pembelajaran. (2008:15)

1.2.1.3. Harga Diri

Menurut Maslow harga diri merupakan salah satu dimensi dari konsep diri. Harga diri adalah proses evaluasi yang ditujukan indivu pada diri sendiri, yang nantinya berkaitan dengan proses penerimaan individu terhadap dirinya. Dalam hal ini evaluasi akan menggambarkan bagaimana penilaian individu tentang dirinya sendiri, menunjukan penghargaan dan pengakuan atau tidak, serta menunjukkan sejauh mana individu tersebut merasa mampu, sukses dan berharga. Secara singkat harga diri diartikan sebagai penilaian terhadap diri tentang keberhargaan diri yang di ekspresikan melalui sikap-sikap yang dianut individu. (1991:124)

1.2.2. Batasan Masalah Penelitian

Dalam suatu penelitian ilmiah harus ada masalah yang akan dipecahkan. Oleh karena itu karya ini merupakan hasil penelitian yang bersifat ilmiah.

Menurut Winarno Surachmad mengemukakan bahwa “masalah adalah suatu kesulitan yang menggerakkan manusia memecahkannya.“ (2000:54)

Sedangkan Sutrisno Hadi menyatakan “penelitian adalah usaha untuk menemukan mengembangkan dan menguji kebenaran suatu ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.“ (2001:221)

Sesuai dengan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan diatas. Di SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012, untuk kelas VII yang memiliki rangking prestasi dibawah rata-rata dari kelas paralel lainnya berkecendrungan bermasalah. Maka dapat dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:

1.2.2.1. Masalah Mayor

Adakah hubungan antara kedisiplinan belajar dengan harga diri pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?

1.2.2.2. Masalah Minor
  • Adakah hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan diri sendiri pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?
  • Adakah hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan dari orang lain pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?

1.2.3 Batasan Daerah Penelitian

Menurut Sutrisno Hadi (2001:57) menyatakan “daerah penelitian adalah tempat (area sampling) yang sudah ditentukan dalam suatu penelitian. “

Maka daerah yang akan dijadikan tempat penilitian dalam skripsi ini ialah di SMP Negeri 1 Glagah Kecamatan Gelagah Kabupaten anyuwangi.

1.2.4. Batasan Responden dan Informan Penelitian

1.2.4.1. Batasan Responden

Pengertian menurut Suharsimi Arikunto, ”Responden adalah orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan penelitian baik peranyaan tertulis maupun lisan”, (2003:10).

Sedangkan Simanhadi Widya Prakoso menyatakan responden atau subyek penelitian adalah orang yang memberikan keterangan tentang masalah yang akan diteliti sehingga mendapatkan data. “(2000:22)

Berdasarkan pendapat diatas responden adalah objek yang dikenai penilitian. Dan sanggup memberikan jawaban dari masalah yang hendak diselidiki atau diteliti.

Maka dalam penelitian ini mengambil responden siswa kelas VII SMP Negeri 1 Gelagah kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012.

1.2.4.2. Batasan Informan.

Dalam pelaksanaan penelitian ini, diperlukan informan untuk memperoleh beberapa informasi mengenai daerah penelitian. informan adalah orang atau sekelompok orang yang dapat memberikan informasi sebagai pelengkap data utama dalam penelitian.

Adapun yang menjadi informan :

1. Kepala Sekolah

2. Wali Kelas

3. Guru BK

4. Staf TU

1.3 Tujuan Penelitian

Pada hakekatnya setiap kegiatan usaha yang dilakukan seseorang atau kelompok pasti memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai.

Menurut Sutrisno Hadi (2001:3) menyetakan “Suatu penelitian khususnya dalam bidang pengetahuan empiris ( kenyataan ) bertujuan menemukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.“

Sedangakan Kartini Kartono“(2002:3) menyatakan bahwa “suatu reseach khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan eksperimen dan empiris riset. Penelitian bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian untuk mencari kebenaran suatu pengetahuan sehingga dapat menguji serta dapat dikembangkan sesuai dengan fakta di lapangan.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1.3.1. Tujuan Mayor

Ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedisiplinan belajar dengan harga diri pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?

1.3.2. Tujuan Minor
  • Ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan diri sendiri pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?
  • Ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedisiplinan belajar dengan penghargaan dari orang lain pada siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 1 Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011-2012?

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperolehnya dari hasil penelitian ini adalah:

a) Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam usaha menanggukangi ketidak disiplinan siswa.

b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi para pendidik/konselor disekolah dalam menangani siswa yang berperilaku yang tidak disiplin.

c) Dapat menumbuhkan kesadaran pada siswa bahwa masalah disiplin sangat diperlukan disekolah. Dengan semakin meningkatnya disiplin siswa diharapkan memperlancar proses belajar mengajar.

Kamis, 14 Februari 2013

skripsi bk halaman (vi)

KATA PENGANTAR



Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini dalam rangka menyelesaikan studi Strata-1 di FKIP Universitas PGRI Banyuwangi.

Pada kesempatan ini, tak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
  1. Bapak Drs. H. Teguh Sumarno, M.M selaku Rektor UNIBA Banyuwangi yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi. 
  2. Bapak Prof. Dr. Miftahul Arifin, M.Pd selaku Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Banyuwangi, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi.
  3. Dra. Sri Surachmi, M.Si selaku Ketua Jurusan Program Studi Bimbingan dan Konseling yang telah memberikan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan studi di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Banyuwangi.
  4. Dra. Sri Surachmi, M.Si dan Jawahirul Kawakib, S.Ag, M.Pd selaku pembimbing yang banyak memberikan bimbingan sehingga penulisan ini berjalan lancar.
  5. Dra. Hj. N. Ratnaningsih selaku Kepala Sekolah dan teman-teman guru SMP Negeri I Glagah Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012 yang telah memberikan ijin dan kemudahan kepada penulis untuk mengambil data penelitian.
  6. Bapak dan Ibu Dosen FKIP UNIBA jurusan Bimbingan dan Konseling yang telah banyak memberikan ilmunya kepada penulisan selama menempuh studi.
  7. Seluruh siswa-siswi Kelas VII Semester II SMP Negeri I Glagah kabupaten Banyuwangi tahun pelajaran 2011/2012 karena dengan segala kesadarannya mau menjadi sampel penelitian.
  8. Teman-teman Jurusan Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas PGRI Banyuwangi, dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.



Harapan penulis semoga amal baik Bapak, Ibudan Saudara berikan kepada penulis mendapat ridlo dari Allah SWT dengan kebaikan yang berlebih Amin.

                                                                                                                    Banyuwangi, Juni 2012



                                                                                   Penulis,





                                                                              Zainul Hannan

skripsi bk halaman (v)

Diterima dan diserahkan didepan panitia penguji skripsi UNIBA PGRI Banyuwangi, untuk memenuhi sebagian syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Bimbingan dan Konseling


                                                             Pada hari  : Jum’at

                                                            Tanggal      : 31 Agustus 2012



                                                                    Panitia Penguji,




                         Ketua,                                                                          Sekertaris,





Drs. H .TEGUH SUMARNO, M.M                                             Drs. MISLAN, M.Pd.








Anggota Penguji I dan II :


1. Dra. Sri Surachmi, M. Si ...........................................



2. Drs. Mislan, M.Pd  …………………………………



                                                                                    Mengetahui,

                                                                                    Dekan FKIP,





                                                                  Prof. Dr. MIFTAHUL ARIFIN, M.Pd

Minggu, 10 Februari 2013

skripsi bk halaman (iv)

HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN HARGA DIRI PADA SISWA KELAS VII SEMESTER GENAP SMP NEGERI I

GLAGAH BANYUWANGI TAHUN

PELAJARAN2011/2012



SKRIPSI

Diajukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan

Program studi Jurusan Bimbingan dan Konseling

Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan pada

UNIBA PGRI Banyuwangi









OLEH :

NAMA : ZAINUL HANNAN

NIM : 098620100449

ANGKATAN : 2009 Transfer

PRODI : Bimbingan dan Konseling

FAKULTAS : Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan







Disetujui oleh 
                                              
                           Pembimbing I                                              Pembimbing II





Dra. SRI SURACHMI, M.Si                               JAWAHIRUL KAWAKIB, S. Ag M.Pd

Sabtu, 09 Februari 2013

skripsi bk halaman (iii)

SKRIPSI INI DIPERSEMBAHKAN KEPADA :


  1. Rhama (Ayah) dan Emmak (Ibu) tercinta yang selalu memberikan segudang do’anya dan biayanya serta selalu sabar dan ikhlas disetiap prilaku diriku yang tak sempurna.
  2. Tunanganku tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan motivasi dalam kuliahku dan karirku.
  3. Saudaraku tersayang : kakak, mbak, adek, ellek, mbah, dan juga seluruh saudaraku yang dimanapun berada.
  4. Rekan-rekan seperjuanganku di kampus Universitas dari berbagai jurusan.
  5. Almamaterku tercinta Universitas PGRI Banyuwangi.

skripsi bk halaman (ii)

MOTTO :





Jadi Diri Sendiri, Cari Jati Diri, dan Dapatkan Hidup Yang Mandiri
Optimis, Karena Hidup Terus Mengalir Dan Kehidupan Terus Berputar
Sesekali Liat Ke Belakang Untuk Melanjutkan Perjalanan Yang Tiada Berujung

skripsi bk halaman(i)

HUBUNGAN ANTARA KEDISIPLINAN BELAJAR DENGAN HARGA DIRI PADA SISWA KELAS VII SEMESTER
GENAP SMP NEGERI I GLAGAH BANYUWANGI
TAHUN PELAJARAN 2011/2012

 




SKRIPSI

Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada

Universitas PGRI Banyuwangi



Oleh :

ZAINUL HANNAN

NIM : 098620100449



PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP)

UNIVERSITAS PGRI BANYUWANGI TAHUN 2012